Social Icons

Jumat, 18 Januari 2013

Syekh Muda Abdul Qadim Belubus (1878-1957): Ulama besar Tarikat Naqsyabandiyah dan Samaniyah di Sumatera Tengah

oleh: al-Faqil Ila Rahmatillah Apria Putra
Tulisan ini dikutip dari buku penulis, "Ulama Luak nan Bungsu" dan "Bibliografi Karya Ulama Minangkabau", berdasarkan keterangan Buya H. Anas Malik Belubus, dan keterangan dari kitab-kitab Beliau.

Syekh Muda Abdul Qadim atau yang lebih dikenal dengan “Baliau Belubus” adalah seorang ulama terkemuka pemangku Tarikat Naqsyabandiyah dan Tarikat Samaniyah. Meski nama beliau tidak begitu banyak disebut oleh para peneliti Ulama, namun beliau mempunyai pengaruh besar yang tak terbantahkan dikalangan ahli-ahli Tarikat Sufiyah di Sumatera Tengah, Minangkabau Umumnya. Bahkan dikabarkan bahwa khalifah-khalifah beliau, salah satunya Syekh Ibrahim Bonjol di Binjai, telah pula mengembangkan sayap ilmu Tarikat dari silsilah Syekh Mudo menyeberang lautan, sampai Malaysia dan Thailand. Ketika diadakan kongres Tarikat Naqsyabandiyah di Bukittinggi pada tahun 1954 yang dipayungi oleh Perti, maka beliau Syekh Mudo adalah salah persertanya, disamping 280 ulama-ulama besar lainnya di Sumatera Tengah.

Foto: Syekh Muda Abdul Qadim Belubus diusia senjanya

Foto: Syekh H. Abdul Malik, anak Syekh Mudo yang melanjutkan surau Belubus disamping kemenakan Syekh Mudo, yaitu Syekh H.Mukhtar Angku Tanjuang

Belubus, sebuah nagari yang terletak di ketinggian, tak jauh dari kota Payakumbuh. Di daerah ini Syekh Muda Abdul Qadim lahir pada tahun 1878. tempat mula beliau menuntut ilmu ialah Batu Tanyuah. Disini beliau mengaji kitab cara lama kepada salah seorang alim yang tidak begitu dikenal namanya. Setelah dari Batu Tanyuah, beliau kemudian belajar mendalami Syari’at dan Tharikat, paling tidak ada 6 daerah terkemuka dalam Tarikat Sufiyah di Minangkabau yang dikhitmatinya. Tempat-tempat itu ialah, pertama, Batu Hampar (Payakumbuh) tempat bermukimnya ulama besar Maulana Syekh Abdurrahman bin Abdullah al-Batu Hampari an-Naqsyabandiyah (w. 1899). Disini beliau mula mengaji Tarikat Naqsyabandiyah sampai memperoleh Natijah, hingga Syekh Abdurrahman menggelari beliau dengan “Syekh Mudo”. Kedua Padang Kandih, yaitu kehadapan Tuan Syekh Muhammad Shaleh Padang Kandih (w. 1912). Ketiga Kumpulan, tempat bermukimnya ulama besar Maulana Syekh Ibrahim bin Fahati “Angguik Balinduang” Kumpulan (w. 1915). Keempat di Padang Bubus Bonjol, tempat beliau berkhitmat atas jalan Tarikat Naqsyabandiyah di Makam Syekh Muhammad Sa’id Padang Bubus (Abad XIX). Kelima di Simabur, kepada salah seorang ulama masyhur dalam ilmu Hakikat, namun nama beliau ini tidak dikenal lagi. Keenam di Kumango, Batusangkar, kepada Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi “Beliau Kumango”. Begitulah pengembaraan keilmuan beliau, terutama dalam bidang ilmu Hakikat dan Tarikat, hingga beliau beroleh nama besar selaku ulama terkemuka dalam Tarikat Ahli Sufi, Naqsyabandiyah dan Samaniyah.

Syekh Mudo setelah itu mulai mengajarkan ilmu yang telah diperolehnya di kampung halaman beliau, Belubus. Disini beliau mendirikan surau, pusat khalwat Naqsyabandi, yang dibarengi dengan pengajaran Tarikat Samaniyah dan Silat Kumango. Surau Belubus kemudian menjadi terkemuka, banyak orang-orang siak dari seantero Minangkabau yang melanjutkan kaji-nya, terutama dalam Tarikat kepada Syekh Mudo Abdul Qadim. Diantara murid-murid beliau tersebut, banyak pula yang kemudian terkemuka pula selaku ulama, diantaranya ialah Syekh Beringin di Tebing Tinggi Medan, Syekh Ibrahim Bonjol di Binjai, Syekh Muhammad Kanis Tuanku Tuah Batu Tanyuah dan Buya H. Muhammad Dalil Dt. Manijun di Jaho.

Foto: Makam Syekh Mudo Abdul Qadim, bersama Syekh Mukhtar Angku Tanjuang (Foto: Apria Putra, 2007)

Syekh Mudo wafat pada tahun 1957 dan dimakamkan di depan Mihrab Surau Belubus. Selain meninggalkan ilmu Tarikat yang berurat berakar, terutama di kawasan Luak Limopuluah, beliau juga meninggalkan beberapa karangan yang diperuntukkan bagi kalangan Ahli Tarikat. Beberapa buah karangan itu dapat diakses, sebagian lainnya masih tersimpan dan dirahasiakan oleh pewaris Surau Belubus. Diantara karangan Syekh Mudo tersebut ialah:

1) As-Sa’adatul Abdiyah fima Ja’a bihin Naqsyabandiyah menyatakan wirid-wirid amalan Tharikat Naqsyabandiyah.

Risalah ini selesai ditulis pada tahun 1936. pada sampul karya ini tercetak jelas : “Tidak dijual dan tidak dipakai bagi orang yang belum mengamalkan wirid tersebut”. Sebuah peringatan yang umum dikalangan ahli Tharikat, sebab ada kekhawatiran bila kaji tharikat diumbar-umbar maka akan jatuh harganya sebagai ilmu yang istimewa. Adapula karena kaji tharikat diperkatakan dipasaran, ada orang-orang yang belum sampai akal dan ilmunya yang membatalkan kaji tersebut, sebab membatalkannya merupakan suatu kecelaan yang nyata.

Secara umum Risalah ini berisi tentang kaifiyah mengambil Tarikat Naqsyabandiyah. Mulai dari Bai’at, penjelasan Zikir-zikir Naqsyabandiyah, Rabithah dan lainnya. Risalah ini telah dicetak beberapa kali oleh berbagai percetakan. Terakhir dicetak pada Percetakan Sa’adiyah Bukittinggi.

2) As-Sa’adatul Abdiyah fima ja’a bihin Naqsyabandiyah Bagian Natijah

Sebuah kitab Naqsyabandiyah yang dipergunakan khusus bagi guru-guru mursyid yang telah mencapai khalifah, sebab di dalamnya banyak dibicarakan mengenai rahasia-rahasia Tharikat Naqsyabandiyah yang dilarang dikemukakan kepada khalayak umum. Cetakan ke-2 risalah ini dicetak oleh Syarikah Tapanuli – Medan tahun 1950.

Foto: Sampul Kitab "as-Sa'adatul Abdiyah", terbitan Medan, 1950

3) Risalah Tsabitul Qulub

Risalah ini merupakan literatur langka mengenai Tarikat Samaniyah di Minangkabau. Secara umum isinya berbicara tentang ilmu Tasawwuf dan Tarikat, namun didalamnya disinggung mengenai amalan Tarikat Samaniyah dengan cukup panjang. Risalah ini terdiri dari beberapa jilid. Sampai saat ini baru diidentifikasi sebanyak 3 juzu’ karya ini. Deskripsi setiap jilid ialah sebagai berikut:
[Pertama] Tsabitul Qulub jilid I, Kitab ini berisi dalil-dalil yang tersirat untuk mempertahankan amal Tharikat, serta memperkokoh hati murid, supaya tidak terpecah-pecah akibat faham yang bergitu rupanya. Penulisan sumber rujukan dalam kitab ini cukup variatif, menunjukkan kealiman Syekh Muda yang masyhur itu. Diantar sumber-sumber kitab yang menjadi rujukannya ialah Tanwirul Qulub (sangat populer saat ini), Shahifatus Shafa (besar kemungkinan karangan Syekh Sulaiman Zuhdi Jabal Qubis), Manzhirul A’ma, Khazinatul Asrar, ar-Rahmatul Habithah, Hadist Arba’in, Sairus Salikin, al-Minhul Nisbah, Husnul Husain, al-Qusyairi, Lathifatul Asrar, Hidayatus Salikin, Aiqazhul Manam, Hidayatul Hidayah, Mawahib Sarmadiyah, al-Asymuni dan lain-lainnya.Selain menjadi penguat hati si murid, risalah ini juga memuat kaifiyah Tharikat Saman dan Tharikat Muhammad Yaman (pecahan Saman) beserta wirid-wirid dan zikir-zikirnya. Risalah ini kemudian ditutup dengan sebuah fasal yang cukup panjang berisi tentang “Pengajaran tatakala nyawa akan berpulang ke hadirat Allah”. (cetakan ke-6, pada percetakan as-Sa’adiyah Bukittinggi, t. th)

Foto: Sampul "Risalah Tsabitul Qulub", Juzu' pertama.

[Kedua] Tsabitul Qulub jilid II, Kajian dalam kitab ini tak kalah menariknya. Kitab ini baru dijumpai penulis dalam bentuk manuskrip, salinan tangan oleh Marnis Dt. Bangso Dirajo. Di antara isi kitab ini ialah:
1) Himpunan akidah lima puluh
2) Sebab zikir la ilaha illallahu tidak pakai muhammadur rasulullah
3) Masalah Nur Muhammad dan Nur Allah
4) Kelebihan manusia dari pada segala alam
5) Masalah Najis dan hadast
6) Pembahasan Muqarinah Niat
7) Tentang martabat Ahadiyah, wahdah dan wahidiyah
8) Menyatakan syari’at dan tharikat di dalam sembahyang
9) Rabithah dalam sembahyang
10) Asal suluk 40 hari, dan lainnya banyak lagi
[Ketiga] Tsabitul Qulub jilid III, pada jilid ini termuat pengajaran Tharikat yang cukup istimewa, yakni membicarakan perhubungan shalat dengan Tharikat. Di mana di dalamnya ada tertulis:
Maka dari itu nyatalah bagi kita bahwa ilmu Tharikat itu bersuanya di dalam sembahyang. Sepatutnya kita mahir ilmu tharikat itu dengan beberapa martabatnya.
………………
Maka apabila hilang hamba dan hilang kalimat dan tinggal nur, maka nur itulah yang dinamakan dengan zikir Hakikat. Maka apabila hilang hamba hilang kulimah hilanglah pula nur maka pulanglah hak kepada yang mepunyai, dan kembalilah hamba kepada Tuhannya. (Tsabitul Qulub jilid ke-III)
Kemudian kitab ini disambung dengan pembahasan mengenai “nafsu yang tujuh”, dijabarkan dengan kalimat jelas dan ringkas. Kemudian kitab ini disudahi dengan wirid-wirid dalam tharikat Saman.
Asal naskah kopiannya masih ada tersimpan di surau Belubus, yakni cetakan Islamiyah – Medan.

4) Al-Manak: mempusakai dari ayah, Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus (disebut juga dengan kitab “Bintang Tujuh”)
Kitab ini berisi ilmu-ilmu yang dipusakai dari Syekh Muda Abdul Qadim. Diantara isinya cara mencari awal-awal bulan Arab, mencari awal bulan Ramadhan, ilmu Bintang Tujuh (saat baik dan buruk), ilmu pertukangan rumah adat Alam Minangkabau, mencari waktu baik dan jahat, mencari barang hilang dan lainnya.

Foto: Sampul Kitab "al-Manaq" (Bintang Tujuh)

Kamis, 17 Januari 2013

ARSIB SUFI



Mesjid Ampang Gadang

ULAMA TUO MINANGKABAU

yang 'alim 'allamah, suluah bendang dalam nagari. panarang diwaktu malam, tungkek disiang hari. bapakaian jo pakaian saadat Syafi'iyyah, mamagang tali Ahlussunnah wal jama'ah, baranang di lautan Ahli Sufi

Maulana Syekh Ibrahim Fahati al-Khalidi Naqsyabandi Kumpuln, gelar "Angguik Balinduang Kumpulan"

Syekh Abdurrahman al-Khalidi "Beliau Kumango"

Sjech Toeanku Uwaiah Limopuluah Malalo

Syekh Abdul Ghani Batu Basurek Kampar

Syekh Ja'far Pulau Gadang Kampar

Maulana Syekh Muhammad 'Arif (Syekh Sampu) Solok Selatan

Syekh Muhammad Salim Bayu Maninjau

Syekh muhammad Djamil Jaho

Syekh Mudo Abdul Qadim "Beliau Belubus"

Syekh Arifin "Beliau Batu Hampar"

Syekh Abdul Manan Tanjuang Alam

Syekh Muhammad Sa'id al-Khalidi Bonjol

Maulana Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung

Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh

Syekh Moh. Yunus Tuanku Sasak

Syekh Datuak Haji Amin Taeh Bukik

Syekh Abdul Wahid as-Salihi "Beliau Tabek Gadang"

Syekh Ahmad Tabiang Pulai

Syekh Mukhtar Angku Lakuang

Tuanku Syekh Beringin

Syekh Ibrahim Harun "Beliau Bomban" Tiakar, Payakumbuah. (w.1967)

Syekh Darwisy Arsyadi dan Buya Dhamrah Arsyadi, Cucu dari Tuanku Maulana Sjech Abdurrahman bin Abdullah Batuhampar, Payakumbuh

Inyiak Syekh Tuanku Aluma Koto Tuo

Syekh Muhammad Djamil Sa'adi bin Syekh Muhammad Sa'ad Mungka Tuo

Syekh Tuanku Shaliah Keramat

Abdul Jalil "Angku Mudo Bonjol"

Buya H. Sirajuddin Abbas

al-'Allamah Buya H. Muhammad Dalil Dt. Manijun Jaho

Buya Haji Rusli Abdul Wahid, Suliki

Buya Sultani Dt. Rajo Dubalang Maninjau

Syekh Mahmud Abdullah "Beliau Tarantang" (kanan)

Syekh Munaf Bakrin "Tuanku Lubuak" Barungbarung Balantai

Syekh Isma'il Kiambang

Syekh Yunus Yahya Magek

Khazanah Manuskrip Minangkabau

Karya gemilang ulama-ulama silam, intan baiduri dan lukluk marjan Surau-surau Pulau Emas ini

Syekh Abdurra'uf Singkel

Syekh Abdurra'uf Singkel
Bayan Tajalli dan Daqa'iqul Huruf [Ms. Padang]

Syekh Burhanuddin Ulakan

Syekh Burhanuddin Ulakan
Kitab Tanbihul Ghaby Syarh al-Hikam

Syekh Syamsuddin as-Sumatrani

Syekh Syamsuddin as-Sumatrani
Syarah Ruba'i Hamzah Fansuri

Syekh Syamsuddin as-Sumatrani

Syekh Syamsuddin as-Sumatrani
Jawahir al-Haqa'iq

Syekh Ibrahim Kumpulan

Syekh Ibrahim Kumpulan
Surat Wasiat Syekh Ibrahim al-Khalidi Kumpulan (w. 1914)

Syekh Djamil Djambek

Syekh Djamil Djambek
Hisabul Kawakib mukhtashar Mathlaq al-Falakiyah [Ms. Sungai Buluah]

Syekh Isma'il al-Khalidi Simabur al-Minangkabawi

Syekh Isma'il al-Khalidi Simabur al-Minangkabawi
Silsilah Tarikat Syaziliyah

Khazanah Ulama Minangkabau

Yang Kamal dan Indah, "Dalam", bukti Lautan Ilmu Ulama-ulama Ranah Andalas semasa dulu

Syekh Isma'il bin Abdullah al-Minangkabawi

Syekh Isma'il bin Abdullah al-Minangkabawi
Mawahib Rabbil Falaq Syarah Qashidah bintil Mailiq [1926]

Syekh Husein ad-Dausairi

Syekh Husein ad-Dausairi
ar-Rahmatul Habithah fiz Zikris Mizzat war Rabithah [1886]

Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi

Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi
Khuttatul Mardhiyyah fi Radd man Qala bibid'ah Talaffuzh bin Niyyah [1906]

Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi

Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi
3 Risalah (Izhar, al-Ayat al-Bayyinat dan as-Saiful Battar) [1908]

Syekh Khatib Muhamad Ali al-fadani al-Minangkabawi

Syekh Khatib Muhamad Ali al-fadani al-Minangkabawi
Miftahus Shadiqiyyah fi Istilahin Naqsyabandiyah

Syekh Khatib Ali al-Fadani al-Minangkabawi

Syekh Khatib Ali al-Fadani al-Minangkabawi
Burhanul Haq [1918]

Syekh Khatib Ali al-Fadani al-Minangkabawi

Syekh Khatib Ali al-Fadani al-Minangkabawi
al-Intisharul I'tisham fi Radd Taqlid 'alal Awam

Syekh Yahya al-Khalidi Magek

Syekh Yahya al-Khalidi Magek
Kitab Jalan Kebahagiaan

Syekh Muhammad Djamil Jambek

Syekh Muhammad Djamil Jambek
Penerangan tentang asal usul Tarikat Naqsyabandiyah [1940]

Syekh Muhammad Thayyib Umar Sungayang

Syekh Muhammad Thayyib Umar Sungayang
Risalah Aqa'idul Iman

DR. Abdul Karim Amarullah

DR. Abdul Karim Amarullah
Pedoman Guru,Pembetul Kiblat Faham Keliru

DR. Abdul Karim Amarullah

DR. Abdul Karim Amarullah
Aiqazhun Niyam

DR. Abdul Karim Amarullah

DR. Abdul Karim Amarullah
Qathi'u Riqab al-Mulhidin [1916]

Syekh Hasan Bashri Maninjau

Syekh Hasan Bashri Maninjau
Mursyidut Thullab: Mencerdikkan segala Penuntut

Syekh Abdul Wahid as-Shalihi Tabek Gadang

Syekh Abdul Wahid as-Shalihi Tabek Gadang
Kitab Aqa'idul Iman

Syekh Muhammad Djamil Jaho

Syekh Muhammad Djamil Jaho
Kasyafatul 'Awishah fi Syarh al-Ajurumiyah

Syekh Muhammad Djamil Jaho

Syekh Muhammad Djamil Jaho
Tazkiratul Qulub fi Mu'amalati Alamal Ghuyub [1957]

Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung

Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung
Kitab Asal Pangkat Penghulu

Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung

Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung
Kitab Enam Risalah [1920]

Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung

Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung
Dawa'ul Qulub fi Qishah Yusuf wa Ya'qub [1924]

Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung

Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung
Tsamaratul Ihsan fi Wiladati Sayyidil Insan [1923]

Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung

Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung
al-Qaulul Bayan fi Tafsiril Qur'an [1929]

Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung

Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung
Kisah Muhammad 'Arif (Pedoman Hidup di Alam Minangkabau) [1939]

Syekh Jalaluddin Sungai Landai

Syekh Jalaluddin Sungai Landai
Risalah Rukun Sembahyang dan Rukun Iman

Syekh Janan Thaib Bukittinggi

Syekh Janan Thaib Bukittinggi
al-Muqmakh Sakharam [1909]

SURAU-SURAU TUO

Bukti keemasan Islam di Negeri Emas, Minangkabau; dilingkupi filosofi "mendalam", arsitektur yang menawan serta kearifan lokal yang menabjukkan. Surau Tuo, tempat berkhitmatnya Ulama-ulama besar Tanah Andalas.

Surau Tuo Taram

Surau Tuo Taram
Tempat mukimnya ulama Besar Syekh Ibrahim Mufti "Beliau Keramat nan Tuo" Taram

Surau Anam Puluah Kurang Aso

Surau Anam Puluah Kurang Aso
Tempat mukimnya Syekh Maulana Sufi (Sungai Pagu)

Surau Menara

Surau Menara
Tempat mukimnya Syekh Mustafa al-Khalidi (w.1901) Sungai Pagu

Bekas Surau Barulak

Bekas Surau Barulak
Mesjid Taqwa Barulak, hasil pemugaran Surau Besar Syekh Muhammad Thahir Barulak (w.1857)

Mesjid Baitul Ula

Mesjid Baitul Ula
Hasil pemugaran Surau Besar Syekh Muhammad Jamil Tungkar (w. 1888)

Kompleks Surau besar Maulana Syekh Abdurrahman bin Abdullah an-Naqsyabandi Batu Hampar

Kompleks Surau besar Maulana Syekh Abdurrahman bin Abdullah an-Naqsyabandi Batu Hampar
Menara di Kampuang Urang Siak (Kampung Dagang), dibangun tahun 1924. di kompleks Surau Syekh Batu Hampar (w. 1899)

Surau Tinggi Kumpulan

Surau Tinggi Kumpulan
Tempat Mukimnya Maulana Syekh Ibrahim bin Fahati "Angguik Balinduang" (w. 1914) Kumpulan

Surau Tabiang Pulai

Surau Tabiang Pulai
Tempat mukim Maulana Syekh Abu Bakar Tabiang Pulai (w. 1889), murid Tuanku Syekh Tungkar, Guru dari Syekh Sa'ad Mungka Tuo

Surau Subarang

Surau Subarang
Tempat mukim Guru kami Maulana Syekh Abdurrahman "Beliau Kumango" Tanah Datar

Surau Rambai

Surau Rambai
Tempat mukim Syekh Abu Bakar "Datuak Gaek" Taeh Bukik

Surau Munggu Padang Kandih

Surau Munggu Padang Kandih
Bekas Surau, ruboh dimakan usia, tempat mukim ulama besar Syekh Muhammad Shalih "Beliau Munggu" Padang Kandih (w. 1912), ayah "Beliau Tobek Godang"

Surau Balubuih (Belubus)

Surau Balubuih (Belubus)
Hasil renovasi Surau Syekh Muda Abdul Qadim Belubus (w. 1957), yang terbakar semasa Jepang.

Surau Lubuak Bauak

Surau Lubuak Bauak
Tempat mengajarnya Syekh Harun ar-Rasyidi Toboh Pariaman (w. 1959)

Surau Sipisang Palupuah

Surau Sipisang Palupuah

MAKAM (Gobah) ULAMA MINANGKABAU

Jejak emas tarikh perjalanan ulama Auliya' di ranah Minang

MAKAM Syekh nan Tuo Taram

MAKAM Syekh nan Tuo Taram

MAKAM Syekh Burhanuddin Ulakan

MAKAM Syekh Burhanuddin Ulakan

Makam Syekh Buyuang Mudo Puluikpuluik Bayang

Makam Syekh Buyuang Mudo Puluikpuluik Bayang
Teman seperjalanan Syekh Burhanuddin Ulakan ketika menuntut ilmu kepada Syekh Abdurra'uf Singkel di Aceh, kemudian hari kembali belajar kepada Syekh Burhanuddin sendiri.

MAKAM Tuanku Syekh BARULAK

MAKAM Tuanku Syekh BARULAK

MAKAM Tuanku Syekh Tungkar

MAKAM Tuanku Syekh Tungkar

MAKAM Syekh Batu Hampar beserta anak cucunya

MAKAM Syekh Batu Hampar beserta anak cucunya

MAKAM Syekh Sampu Solok Selatan

MAKAM Syekh Sampu Solok Selatan

MAKAM Syekh Abdullah "Beliau Halaban" (w. 1926)

MAKAM Syekh Abdullah "Beliau Halaban" (w. 1926)
Gundukan tanah Makam Syekh Halaban, Ulama besar Tigo Luak, guru Inyiak Canduang dan Inyiak Jaho, dalam keadaan tidak terawat. Sudahkah hilang kepercayaan kita akan Ulama sehingga makamnya kita biarkan tak terurus???

MAKAM Syekh Muhammad Sa'ad al-Khalidi MUNGKA TUO

MAKAM Syekh Muhammad Sa'ad al-Khalidi MUNGKA TUO

MAKAM Syekh Abdul Hamid BELIAU TANJUANG IPUAH

MAKAM Syekh Abdul Hamid BELIAU TANJUANG IPUAH

MAKAM Syekh Muhammad Amin "Haji Piobang", salah satu penggagas Paderi

MAKAM Syekh Muhammad Amin "Haji Piobang", salah satu penggagas Paderi

Makam Syekh Muhammad Thaha (w. 1916) Limbukan

Makam Syekh Muhammad Thaha (w. 1916) Limbukan

MAKAM Syekh Harun Toboh di Batipuah(w. 1959)

MAKAM Syekh Harun Toboh di Batipuah(w. 1959)

MAKAM Syekh Zakaria al-Ansari Labai Sati MALALO

MAKAM Syekh Zakaria al-Ansari Labai Sati MALALO

MAKAM Syekh Inyiak ALUMA Koto Tuo

MAKAM Syekh Inyiak ALUMA Koto Tuo

MAKAM Tuanku Mudo Abdul Jalil BONJOL (w. 1961)

MAKAM Tuanku Mudo Abdul Jalil BONJOL (w. 1961)

MAKAM Syekh Isma'il Kiambang

MAKAM Syekh Isma'il Kiambang