Social Icons

Jumat, 18 Januari 2013

Syekh Muda Abdul Qadim Belubus (1878-1957): Ulama besar Tarikat Naqsyabandiyah dan Samaniyah di Sumatera Tengah

oleh: al-Faqil Ila Rahmatillah Apria Putra
Tulisan ini dikutip dari buku penulis, "Ulama Luak nan Bungsu" dan "Bibliografi Karya Ulama Minangkabau", berdasarkan keterangan Buya H. Anas Malik Belubus, dan keterangan dari kitab-kitab Beliau.

Syekh Muda Abdul Qadim atau yang lebih dikenal dengan “Baliau Belubus” adalah seorang ulama terkemuka pemangku Tarikat Naqsyabandiyah dan Tarikat Samaniyah. Meski nama beliau tidak begitu banyak disebut oleh para peneliti Ulama, namun beliau mempunyai pengaruh besar yang tak terbantahkan dikalangan ahli-ahli Tarikat Sufiyah di Sumatera Tengah, Minangkabau Umumnya. Bahkan dikabarkan bahwa khalifah-khalifah beliau, salah satunya Syekh Ibrahim Bonjol di Binjai, telah pula mengembangkan sayap ilmu Tarikat dari silsilah Syekh Mudo menyeberang lautan, sampai Malaysia dan Thailand. Ketika diadakan kongres Tarikat Naqsyabandiyah di Bukittinggi pada tahun 1954 yang dipayungi oleh Perti, maka beliau Syekh Mudo adalah salah persertanya, disamping 280 ulama-ulama besar lainnya di Sumatera Tengah.

Foto: Syekh Muda Abdul Qadim Belubus diusia senjanya

Foto: Syekh H. Abdul Malik, anak Syekh Mudo yang melanjutkan surau Belubus disamping kemenakan Syekh Mudo, yaitu Syekh H.Mukhtar Angku Tanjuang

Belubus, sebuah nagari yang terletak di ketinggian, tak jauh dari kota Payakumbuh. Di daerah ini Syekh Muda Abdul Qadim lahir pada tahun 1878. tempat mula beliau menuntut ilmu ialah Batu Tanyuah. Disini beliau mengaji kitab cara lama kepada salah seorang alim yang tidak begitu dikenal namanya. Setelah dari Batu Tanyuah, beliau kemudian belajar mendalami Syari’at dan Tharikat, paling tidak ada 6 daerah terkemuka dalam Tarikat Sufiyah di Minangkabau yang dikhitmatinya. Tempat-tempat itu ialah, pertama, Batu Hampar (Payakumbuh) tempat bermukimnya ulama besar Maulana Syekh Abdurrahman bin Abdullah al-Batu Hampari an-Naqsyabandiyah (w. 1899). Disini beliau mula mengaji Tarikat Naqsyabandiyah sampai memperoleh Natijah, hingga Syekh Abdurrahman menggelari beliau dengan “Syekh Mudo”. Kedua Padang Kandih, yaitu kehadapan Tuan Syekh Muhammad Shaleh Padang Kandih (w. 1912). Ketiga Kumpulan, tempat bermukimnya ulama besar Maulana Syekh Ibrahim bin Fahati “Angguik Balinduang” Kumpulan (w. 1915). Keempat di Padang Bubus Bonjol, tempat beliau berkhitmat atas jalan Tarikat Naqsyabandiyah di Makam Syekh Muhammad Sa’id Padang Bubus (Abad XIX). Kelima di Simabur, kepada salah seorang ulama masyhur dalam ilmu Hakikat, namun nama beliau ini tidak dikenal lagi. Keenam di Kumango, Batusangkar, kepada Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi “Beliau Kumango”. Begitulah pengembaraan keilmuan beliau, terutama dalam bidang ilmu Hakikat dan Tarikat, hingga beliau beroleh nama besar selaku ulama terkemuka dalam Tarikat Ahli Sufi, Naqsyabandiyah dan Samaniyah.

Syekh Mudo setelah itu mulai mengajarkan ilmu yang telah diperolehnya di kampung halaman beliau, Belubus. Disini beliau mendirikan surau, pusat khalwat Naqsyabandi, yang dibarengi dengan pengajaran Tarikat Samaniyah dan Silat Kumango. Surau Belubus kemudian menjadi terkemuka, banyak orang-orang siak dari seantero Minangkabau yang melanjutkan kaji-nya, terutama dalam Tarikat kepada Syekh Mudo Abdul Qadim. Diantara murid-murid beliau tersebut, banyak pula yang kemudian terkemuka pula selaku ulama, diantaranya ialah Syekh Beringin di Tebing Tinggi Medan, Syekh Ibrahim Bonjol di Binjai, Syekh Muhammad Kanis Tuanku Tuah Batu Tanyuah dan Buya H. Muhammad Dalil Dt. Manijun di Jaho.

Foto: Makam Syekh Mudo Abdul Qadim, bersama Syekh Mukhtar Angku Tanjuang (Foto: Apria Putra, 2007)

Syekh Mudo wafat pada tahun 1957 dan dimakamkan di depan Mihrab Surau Belubus. Selain meninggalkan ilmu Tarikat yang berurat berakar, terutama di kawasan Luak Limopuluah, beliau juga meninggalkan beberapa karangan yang diperuntukkan bagi kalangan Ahli Tarikat. Beberapa buah karangan itu dapat diakses, sebagian lainnya masih tersimpan dan dirahasiakan oleh pewaris Surau Belubus. Diantara karangan Syekh Mudo tersebut ialah:

1) As-Sa’adatul Abdiyah fima Ja’a bihin Naqsyabandiyah menyatakan wirid-wirid amalan Tharikat Naqsyabandiyah.

Risalah ini selesai ditulis pada tahun 1936. pada sampul karya ini tercetak jelas : “Tidak dijual dan tidak dipakai bagi orang yang belum mengamalkan wirid tersebut”. Sebuah peringatan yang umum dikalangan ahli Tharikat, sebab ada kekhawatiran bila kaji tharikat diumbar-umbar maka akan jatuh harganya sebagai ilmu yang istimewa. Adapula karena kaji tharikat diperkatakan dipasaran, ada orang-orang yang belum sampai akal dan ilmunya yang membatalkan kaji tersebut, sebab membatalkannya merupakan suatu kecelaan yang nyata.

Secara umum Risalah ini berisi tentang kaifiyah mengambil Tarikat Naqsyabandiyah. Mulai dari Bai’at, penjelasan Zikir-zikir Naqsyabandiyah, Rabithah dan lainnya. Risalah ini telah dicetak beberapa kali oleh berbagai percetakan. Terakhir dicetak pada Percetakan Sa’adiyah Bukittinggi.

2) As-Sa’adatul Abdiyah fima ja’a bihin Naqsyabandiyah Bagian Natijah

Sebuah kitab Naqsyabandiyah yang dipergunakan khusus bagi guru-guru mursyid yang telah mencapai khalifah, sebab di dalamnya banyak dibicarakan mengenai rahasia-rahasia Tharikat Naqsyabandiyah yang dilarang dikemukakan kepada khalayak umum. Cetakan ke-2 risalah ini dicetak oleh Syarikah Tapanuli – Medan tahun 1950.

Foto: Sampul Kitab "as-Sa'adatul Abdiyah", terbitan Medan, 1950

3) Risalah Tsabitul Qulub

Risalah ini merupakan literatur langka mengenai Tarikat Samaniyah di Minangkabau. Secara umum isinya berbicara tentang ilmu Tasawwuf dan Tarikat, namun didalamnya disinggung mengenai amalan Tarikat Samaniyah dengan cukup panjang. Risalah ini terdiri dari beberapa jilid. Sampai saat ini baru diidentifikasi sebanyak 3 juzu’ karya ini. Deskripsi setiap jilid ialah sebagai berikut:
[Pertama] Tsabitul Qulub jilid I, Kitab ini berisi dalil-dalil yang tersirat untuk mempertahankan amal Tharikat, serta memperkokoh hati murid, supaya tidak terpecah-pecah akibat faham yang bergitu rupanya. Penulisan sumber rujukan dalam kitab ini cukup variatif, menunjukkan kealiman Syekh Muda yang masyhur itu. Diantar sumber-sumber kitab yang menjadi rujukannya ialah Tanwirul Qulub (sangat populer saat ini), Shahifatus Shafa (besar kemungkinan karangan Syekh Sulaiman Zuhdi Jabal Qubis), Manzhirul A’ma, Khazinatul Asrar, ar-Rahmatul Habithah, Hadist Arba’in, Sairus Salikin, al-Minhul Nisbah, Husnul Husain, al-Qusyairi, Lathifatul Asrar, Hidayatus Salikin, Aiqazhul Manam, Hidayatul Hidayah, Mawahib Sarmadiyah, al-Asymuni dan lain-lainnya.Selain menjadi penguat hati si murid, risalah ini juga memuat kaifiyah Tharikat Saman dan Tharikat Muhammad Yaman (pecahan Saman) beserta wirid-wirid dan zikir-zikirnya. Risalah ini kemudian ditutup dengan sebuah fasal yang cukup panjang berisi tentang “Pengajaran tatakala nyawa akan berpulang ke hadirat Allah”. (cetakan ke-6, pada percetakan as-Sa’adiyah Bukittinggi, t. th)

Foto: Sampul "Risalah Tsabitul Qulub", Juzu' pertama.

[Kedua] Tsabitul Qulub jilid II, Kajian dalam kitab ini tak kalah menariknya. Kitab ini baru dijumpai penulis dalam bentuk manuskrip, salinan tangan oleh Marnis Dt. Bangso Dirajo. Di antara isi kitab ini ialah:
1) Himpunan akidah lima puluh
2) Sebab zikir la ilaha illallahu tidak pakai muhammadur rasulullah
3) Masalah Nur Muhammad dan Nur Allah
4) Kelebihan manusia dari pada segala alam
5) Masalah Najis dan hadast
6) Pembahasan Muqarinah Niat
7) Tentang martabat Ahadiyah, wahdah dan wahidiyah
8) Menyatakan syari’at dan tharikat di dalam sembahyang
9) Rabithah dalam sembahyang
10) Asal suluk 40 hari, dan lainnya banyak lagi
[Ketiga] Tsabitul Qulub jilid III, pada jilid ini termuat pengajaran Tharikat yang cukup istimewa, yakni membicarakan perhubungan shalat dengan Tharikat. Di mana di dalamnya ada tertulis:
Maka dari itu nyatalah bagi kita bahwa ilmu Tharikat itu bersuanya di dalam sembahyang. Sepatutnya kita mahir ilmu tharikat itu dengan beberapa martabatnya.
………………
Maka apabila hilang hamba dan hilang kalimat dan tinggal nur, maka nur itulah yang dinamakan dengan zikir Hakikat. Maka apabila hilang hamba hilang kulimah hilanglah pula nur maka pulanglah hak kepada yang mepunyai, dan kembalilah hamba kepada Tuhannya. (Tsabitul Qulub jilid ke-III)
Kemudian kitab ini disambung dengan pembahasan mengenai “nafsu yang tujuh”, dijabarkan dengan kalimat jelas dan ringkas. Kemudian kitab ini disudahi dengan wirid-wirid dalam tharikat Saman.
Asal naskah kopiannya masih ada tersimpan di surau Belubus, yakni cetakan Islamiyah – Medan.

4) Al-Manak: mempusakai dari ayah, Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus (disebut juga dengan kitab “Bintang Tujuh”)
Kitab ini berisi ilmu-ilmu yang dipusakai dari Syekh Muda Abdul Qadim. Diantara isinya cara mencari awal-awal bulan Arab, mencari awal bulan Ramadhan, ilmu Bintang Tujuh (saat baik dan buruk), ilmu pertukangan rumah adat Alam Minangkabau, mencari waktu baik dan jahat, mencari barang hilang dan lainnya.

Foto: Sampul Kitab "al-Manaq" (Bintang Tujuh)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar